Persebaya Latihan Tertutup, Pertahanan Losss

Leo Lelis ditandu keluar lapangan karena cedera dan diganti Riswan Lauhim pada awal babak pertama melawan tuan rumah PSM Makassar di Stadion Gelora B.J. Habibie, Pare-pare, Sabtu (10/9/2022) malam. Fot: Basuki Munjianto untuk Portal Surabaya

PORTALSURABAYA.COM – Stadion Gelora B.J. Habibie (GBH) Pare-pare masih angker bagi tim-tim tamu PSM Makassar. Dari 5 laga home tim Juku Eja tersebut, telah 4 kali menang dan sekali seri.

Terakhir, Persebaya Surabaya merasakan keangkeran stadion yang berjarak sekitar 4 jam dari Makassar itu. Dibantai PSM 3 gol tanpa balas pada Sabtu, (10/9/2022) malam.

Berikut catatan Kukuh Ismoyo, pengamat sepak bola yang juga Arek Bonek Sukodono:

Babak pertama vs PSM

Tak disangka Persebaya bisa meladeni saling serang lawan PSM yang bertindak sebagai tuan rumah. Sudah seharusnya seperti itu. Tak hanya bertahan takut kebobolan.

Tapi memang PSM sekarang berada di level yang berbeda sama sekali. Winger dan full back-nya ngeri-ngeri. Tanpa Wiljan pluim pun, mereka masih bisa mengalirkan bola dengan baik sekali ke kedua Flank mereka. Yacob sayuri terutama, sangat mengerikan sekali.

Sebenarnya, kedua full back Persebaya juga tidak naik terlalu tinggi, masih konsentrasi ke pertahanan. Tapi memang pace, sekaligus skill dari winger-winger PSM, ditambah lagi distribusi bola dari PSM, sangat baik sekali mengecoh pertahanan Persebaya. Ambradul diacak-acak para pemain depan PSM.

Persebaya memang terkenal cepat gaya bermainnya, namun melihat PSM malam ini, Persebaya harus belajar lagi arti kata ‘cepat’ itu.

Satu-satunya pemain yang TIDAK HADIR di lapangan adalah Michael Rumere. Sorry to say. Dia ada tapi gak terlihat secara signifikan peranannya. Gak berguna sama sekali.

Tidak atau jarang terlihat membawa bola. Tidak terlibat membantu serangan juga membackup pertahanan. Heran, apa pertimbangannya Coach Aji memainkan pemain satu ini?

Sho Yamamoto, masih belum juga klik. Vidal cedera, malah Leo Lelis cedera juga. Ganti semua pemain asing, tiada kontribusi yang signifikan buat Bajol Ijo.

Babak Kedua

Parah dan payah adalah 2 kata yang pantas menggambarkan permainan Persebaya di babak kedua ini. Bagaimana tidak, permainan tidak malah berkembang dengan baik, justru malah semakin menurun.

Yang paling jelek adalah bagaimana pressing dan marking para pemain Persebaya pada para pemain PSM sangat longgar sekali di babak ini. Seringkali para pemain PSM dengan enaknya menerima dan menggulirkan bola dengan baik antar pemain juga antar lini tanpa ada pengawalan berarti.

PSM masih cukup kuat melakukan permainan cepatnya, membikin para pemain Persebaya hancur lebur staminanya. Terlihat betapa duo full back Koko Ari dan Alta Ballah sangat kelimpungan menghadapi gempuran serangan dari sisi sayap PSM.

Pergantian pemain yang dilakukan Persebaya tak malah membuahkan hasil positif, malah membuat tersungkur kalah. Adalah Brayen Pondaag yang malah membuat Persebaya terhukum atas handball-nya di petak penalti.

Pun, antara dirinya dan Rizki Dwiyan tak begitu apik menggalang lini tengah Persebaya bersama Alwi Slamat. Sudahlah permainan tak membaik, malah jadi makin aneh polanya.

Sudah tahu ada Yuran Fernandez di pusat pertahanan PSM dengan tinggi hampir 2 meter, malah memainkan bola-bola panjang. Menyedihkan.

Hanya Saiful yang bermain lumayan ngosek sebagai pemain pengganti. Apakah ada impact-nya? Tidak. Hanya ngeyel saja. Tidak berdampak positif bagi perkembangan permainan Persebaya.

Rizki Dwiyan dan Brayen Pondaag juga tak membuat Persebaya menjadi lebih baik dari pada Andre Cobra dan Michael Rumere di babak pertama.

FYI, saya pernah nulis dulu, dari semua pemain tengah baru Persebaya, hanya Andre Cobra yang memiliki kualifikasi dan kualitas untuk bermain di Liga 1 juga menyandang nama besar Persebaya.

Yang lain? Enggak blas! Sorry to say, ini kenyataan yang saya lihat selama 9 pertandingan liga dan pra musim.

***

Sepertinya, tim ini game over. Tidak ada yang bisa dibenahi kecuali ganti pemain-pemain yang tidak perform, sering cedera dan tampil di bawah ekspektasi.

Bahkan andaikata Aji Santoso dipecat pun, dengan komposisi pemain macam ini, tak menjamin pelatih baru bisa membuat Persebaya lebih baik lagi.

Ya sudah, pada akhirnya pasrah sampai musim transfer kedua dibuka nanti, untuk menantikan pemain baru yang masuk menggantikan pemain yang keluar karena tidak memenuhi kualitas untuk mengangkat Persebaya dengan baik selama ini.

Hanya itu saja. Menunggu. Dengan tabah dan sabar akan hasil yang kemungkinan tidak akan berjalan baik nantinya. ***

Artikulli paraprakJemaah Haji Terakhir Dirawat di Saudi Pulang ke Indonesia
Artikulli tjetërDikandang Sendiri, Gresik United Ditahan Imbang Persikab Bandung